Selasa, 15 November 2016

Hikmayandi, Legenda Si Kembar dari Perguruan Hati Suci


           Kota Bulukumba merupakan kota yang tingkat kenakalan remaja dan kriminalitasnya tertinggi kedua setelah Kota Makassar. Hampir setiap hari terjadi perkelahian antar geng anak muda, pencurian, dan pemerkosaan. Begitulah gambaran situasi dan keadaan kota Bulukumba pada penghujung era tahun 1980-an dan tahun-tahun awal era 1990-an. Laju pembangunan gaya Orde Baru di Indonesia saat itu sedang bergerak pesat. Sementara itu sebahagian masyarakat merasa tidak cukup memiliki rasa aman.

          Pada masa itu, beberapa geng anak muda di kota Bulukumba dikenal banyak melakukan aksi kriminal. Geng-geng anak muda berandal yang namanya masih melegenda sampai hari  ini antara lain Bidosto, Kacando, Antanija dan Bayonet tidak mampu diberantas oleh pihak kepolisian.
          Warga kota merasa sangat resah selama bertahun-tahun. Ketenteraman mereka terganggu terutama pada malam hari. Mereka sangat terusik akibat dari aksi perkelahian antar geng, pencurian, pemerkosaan dan lain-lain. Kejadian-kejadian semacam itu terjadi hampir setiap hari. Aksi dari geng-geng berandalan tersebut bukan lagi sekedar kenakalan remaja biasa. Tetapi sudah berada pada tingkat kriminal.
          Sementara itu di sebuah perguruan silat bernama Perguruan Hati Suci di kota Bulukumba. Dua orang anak muda bersaudara kandung sedang digembleng dengan ilmu silat oleh sang ayah kedua anak muda itu.
          Pada suatu hari, Kaimuddin, sang ayah memanggil kedua putranya. Kaimuddin yang oleh anak-anak dan muridnya ini biasa disebut dengan panggilan nama Abah.
          Abah berkata, “Ketahuilah, anak-anakku. Hari ini adalah hari yang aku nantikan. Menurutku, telah cukup ilmu silat yang aku ajarkan kepada kalian. Kalian berdua harus menggunakan ilmu itu di jalan kebenaran. Kalian hanya boleh menggunakannya untuk memberantas kebatilan di tengah masyarakat. Kalian aku tugaskan untuk memberantas kebatilan di kota Bulukumba.”
           Seperti layaknya kisah-kisah pendekar dalam cerita komik silat dan film-film laga, maka berangkatlah kedua pemuda itu melakukan petualangan. Mereka merasa bertanggung jawab untuk menunaikan tugas mulia, sebagaimana amanah dari sang ayah sekaligus guru mereka.
            Nama kedua pemuda tampan itu adalah Hikmayandi dan Indra. Wajah kedua kakak adik ini sangat mirip. Sampai-sampai keduanya dijuluki “Si Kembar”.
            Keduanya memiliki ciri khas berupa rambut gondrong. Sebagaimana trend anak muda era 1990-an saat itu. Hikmayandi memiliki tubuh agak jangkung dan berkulit putih. Indra memiliki kulit kuning langsat. Perawakannya sedikit lebih kecil dibanding Hikmayandi. Keduanya masing-masing selalu membawa double stick (serambo) di manapun mereka berada.
            Hampir setiap malam kedua pemuda ini berkelana di kota Bulukumba. Hampir setiap malam pula mereka bertarung melawan geng-geng anak muda berandal. Uniknya, mereka berdua selalu bertarung di dalam wilayah kekuasaan geng-geng tersebut. Keduanya selalu dikeroyok puluhan orang dalam setiap pertarungan. Dalam puluhan pertarungan itu senantiasa dimenangkan oleh Si Kembar. Dalam waktu beberapa bulan, semua wilayah kekuasaan geng-geng di Bulukumba telah mereka jelajahi. Semua dedengkot geng-geng pun telah mereka taklukkan.
            Dalam waktu relatif singkat, keduanya mulai dikenal dari mulut ke mulut di kalangan warga kota. Warga kota merasa seperti memiliki sepasang hero. Kedua pendekar muda di zaman modern itu seolah menjadi ikon tersendiri di kota Bulukumba.
           Cerita dari mulut ke mulut tentang Si Kembar akhirnya sampai juga ke telinga Kapolres Bulukumba pada waktu itu. Suatu hari, Kapolres Bulukumba memerintahkan anak buahnya untuk menghadirkan Si Kembar di ruangannya.
          “Saat itu jujur kami merasa kaget karena tiba-tiba dipanggil oleh Kapolres untuk menghadap beliau, kami bertanya-tanya dalam hati kira-kira kami mau diapakan ya?” kata Hikmayandi menuturkan kepada penulis ketika ia mengenang detik-detik bersejarah itu.
          Dalam pertemuan itu, ternyata di luar dugaan keduanya, Kapolres secara terus terang mengungkapkan kekagumannya terhadap sepak terjang Si Kembar. Bahkan Kapolres saat itu sempat menanyakan tentang double stick yang selalu mereka bawa kemana-mana. Saat itu, karena takut Si Kembar sengaja menyembunyikan senjata andalannya itu di luar markas Polres. Kapolres menyuruh keduanya untuk mengambil kedua senjata itu.
          “Kalian tidak boleh berpisah dari senjata kalian ini. Jujur baru kali ini saya melihat ada pendekar-pendekar remaja seperti kalian yang sebelumnya hanya dapat saya saksikan di film-film,” kata Kapolres penuh rasa kagum.
          Pada hari itu, Kapolres lalu memberikan semacam surat rekomendasi kepada Si Kembar yang ditandatangani sendiri oleh Kapolres. Surat rekomendasi itu intinya memberikan izin kepada Si Kembar untuk melumpuhkan semua pelaku kriminal terutama geng-geng berandal di kota Bulukumba. Babak baru petualangan Si Kembar pun dimulai.
          Hampir setiap hari Si Kembar keluar masuk kantor Polres untuk menyeret anak-anak muda berandal yang telah mereka lumpuhkan. Sejak saat itu situasi keamanan di kota Bulukumba mulai berangsur pulih dan terkendali.
            “Pada masa itu, Si Kembar benar-benar ditakuti lawan dan disegani kawan,” tutur Abdul Samad Rauf, Ketua Dewan Penasihat Banpom Bulukumba dan teman seperguruan Si Kembar.
            Saat ini, Hikmayandi dan Indra tidak muda lagi. Keadaan kota Bulukumba pun kini sudah tidak seperti dulu saat mereka masih berusia 19 dan 18 tahun kala itu. Mereka juga sudah tidak berkelana kesana kemari untuk melumpuhkan geng-geng yang meresahkan masyarakat. Meski demikian, Si Kembar tetap menunjukkan dedikasinya yang tulus ikhlas membantu masyarakat dalam memenuhi rasa amannya.
             Pada tahun 1995, secara resmi seluruh anggota Perguruan Hati Suci dilantik menjadi anggota Badan Pembantu Polisi Militer (Banpom) Kabupaten Bulukumba. Hikmayandi menjabat sebagai Panglima Tertinggi Banpom dan Indra sebagai Ketua Pelaksana Harian Banpom.
              Pada tahun 2012, atas dedikasinya selama ini dalam membantu terciptanya Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) Hikmayandi mewakili atas nama Si Kembar, perguruan Hati Suci  dan Banpom diberikan Piagam Penghargaan Kamtibmas oleh Kapolda Sulselbar.(*)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar